Rabu, 24 Februari 2010

BAGIAN-3
Pendahuluan


Pada bagian ke-3 ini saya akan mencoba memaparkan suatu langkah persiapan untuk memasuki ilmu hikmah dari Al Quran. Harapan saya kiranya kita telah membaca dengan seksama catatan bagian-2 dan memahaminya. Jika belum, saya sarankan untuk kembali membacanya sampai betul-betul paham.

Hisablah dirimu sebelum engkau di hisab

Istilah itu saya dengar dari seorang khotib pada suatu hari Jumat, beliau menyampaikan bahwa pesan itu disampaikan oleh Khalifah Umar ra. Yang saya tahu bahwa Umar ra adalah salah seorang dari sahabat Rasulullah SAW yang mendapat jaminan masuk surga (telah selamat). Dengan demikian maka perkataannya di atas itu sudah pasti benar. Saya berani katakan demikian karena didukung oleh QS 59 ayat 18:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Itulah pesan Allah SWT bahwa setiap orang hendaklah memperhatikan dirinya masing-masing. Dengan demikian maka petunjuk Allah SWT (Al Quran) yang kita baca itu ditujukan bagi setiap orang yang membacanya, bukan orang lain. Seperti contoh ketika membaca ayat yang diawali “hai orang-orang yang beriman”, mungkin kita merasa yang dimaksud adalah kita sendiri. Tetapi ketika membaca ayat “sesungguhnya orang-orang kafir itu....”, maka pikiran kita adalah orang lain di luar sana, bukan kita sendiri, pada hal boleh jadi kita termasuk di dalamnya. Kita dengan mudahnya menghakimi orang lain kafir, musyrik, munafik, fasik, murtad, sombong, dzalim, dsb, pada hal boleh jadi kita lebih buruk daripada orang lain. Kita sering terjebak untuk sibuk dengan urusan yang sangat kecil (keselamatan orang lain) sampai lupa kepada persoalan yang sangat besar yaitu keselamatan diri sendiri.
Jadi marilah kita senantiasa menghisab diri kita sendiri, agar apa yang Allah SWT turunkan kepada kita (Al Quran) itu dapat dengan mudah kita pahami dan mendapatkan ilmu hikmah di dalamnya. QS 36 ayat 1-2:
1. Yaa siin
2. Demi Al Quran yang penuh hikmah,


Kalau boleh saya katakan bahwa kita telah melewati fase suhuf-suhuf itu, atau kita sudah mengenal yang mana Khaliq dan yang mana makhluk. Sekarang kita sudah baligh, sudah berlaku hukum-hukum bagi kita. Siapa yang berbuat pelanggaran akan mendapat dosa, dan siapa yang mengerjakan kebajikan akan mendapat pahala. Inilah fase taurat. Pertanyaan selanjutnya pada diri kita masing-masing antara lain adalah:
- apakah kita berupaya menjauhi pelanggaran-pelanggaran hanya karena takut akan berdosa? Pernakah kita tersadar bahwa kerusakan-kerusakan yang kita perbuat di muka bumi ini baik kepada manusia, hewan, tumbuhan, maupun alam sekitar secara keseluruhan adalah sebenarnya merusak diri kita sendiri?
- Apakah kita melakukan kebajikan di muka bumi ini hanya karena berharap Allah SWT memberi pahala sejumlah sekian dan sekian? Sadarkah kita bahwa kalau bukan karena nikmatNya kita tidak akan mampu berbuat kebajikan walau secuil pun?
- Bukankah Allah SWT telah memberikan begitu banyak nikmatNya kepada kita tanpa hitungan-hitungan? Sementara untuk memujiNya, menyebut namaNya, keagunganNya, dan lain sebagainya, kita selalu berhitung sekian kali atau sekian ribu kali?
- Masih banyak pertanyaan serupa yang perlu kita renungkan. QS 72 ayat 13:
Dan Sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), kami beriman kepadanya. barangsiapa beriman kepada Tuhannya, Maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.

Marilah kita bergerak masuk kepada fase berikutnya yaitu fase zabur dan injil yang penuh dengan hikmah. Memang sangat berat untuk masuk ke sana kecuali atas petunjuk Allah SWT. Namun demikian Allah SWT telah menerangkannya dengan sangat jelas metodenya dalam Al Quran, antara lain yang telah sampai pengetahuannya kepada saya adalah:
1. metode pergerakan nabi-nabi.
2. metode hijrah atau keluar kampung.
3. metode bunuh diri atau metode mi’raj.
4. metode pindah kiblat.
Dari keempat metode itu kelihatannya berbeda namun pergerakannya sama saja, terhimpun dalam satu thoriqat (jalan) yaitu SHOLAT. QS 29 ayat 45:
Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

QS 72 ayat 16:
Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).

Semua itu Insya Allah akan dipaparkan secara lengkap berdasarkan firman-Nya pada pembahasan selanjutnya. Semoga kita semua senantiasa tetap pada petunjukNya.
(mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; Karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)".


BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar